Sabtu, 30 Maret 2019

KETUHANAN


A.            KETUHANAN MENURUT FILSAFAT
Ketuhanan menurut pemikiran manusia berdasarkan atas hasil pemikiran baik melalui pengalaman lahiriah maupun pengalaman bathiniah, baik yang bersifat rasional maupun bersifat non rasional (bathin), didalam berbagai literatur tentang sejarah agama dikenal dengan teori evolusionisme yang menyatakan bahwa adanya peruses dari kepercayaan yang amat sederhana lama kelamaan meningkat menjadi sempurna. Teori ini mula-mula di kemukakan oleh Max Muller, EB Taylor, Robertson Smit, Lubbock dan Jevens. Menurut teori evolusionisme pemikiran tentang Tuhan adalah sebagai berikut:
1.       ­Dinamisme
Manusia sejak zaman primitif telah mengakui adanya kekuatan yang berpengaruh terhadap kehidupannya. Mula-mula sesuatu yang berpengaruh tersebut ditujukan kepada benda. Setiap benda mempunyai pengaruh pada manusia, ada yang berpengaruhpositif ada yang berpengaruh negatif. Kekuatan yang ada pada benda disebut dengan nama yang berbeda-beda, seperti Mana (Melanesia), tuah (Melayu) dan syakti (India). Mana adalah kekuatan gaib yang tidak dapat dilihat atau di indrakan dengan panca indra. Oleh karena itu dianggap sebagai sesuatu yang misterius. Meskipun Mana tidak dapat diindrakan tetapi ia dapat dirasakan. Menurut Ramlan Yusuf  dinamisme mengandung kepercayaan pada kekuatan gaib yang misterius pada benda benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia sehari-hari.
Dari uraian diatas dapat di pahami bahwa Dinamisme adalah paham yang mempercayai benda-benda seperti pohon, batu, keris dan sebaginya mempunyai kekuatan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia, yang dapat memberikan keberuntungan atau terhindar dari keburukan atau kesialan dalam hidup. Bahkan sampai saat ini  paham dinamisme masih ada dilakukan di indonesia dalam tradisi adat istiadat.
2.     Animisme
Mempercayai adanya roh dalam hidupnya. Setiap benda yang dianggap benda baik mempunyai roh. Roh dipercaya sebagai sesuatu yang aktif sekalipun benda mati. Roh dianggap sebagai sesuatu yang hidup mempunyai rasa senang , serta mempunyai kebutuhan kebutuhan, roh akan senang apabila kebutuhannya terpenuhi. Menurut kepercayaan ini, agar manusia tidak terkena efek negatif dari roh-roh tersebut, manusia harus menyediakan kebutuhan roh. Sajian sajian berdasarkan petuah dukun adalah salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan roh.  Menurut Ramlan Yusuf animisme adalah agama yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa, mempunyai roh. Tujuan beragama disini mengadakan hubungan baik dengan roh-roh yang ditakuti dan dihormati itu dengan senatiasa berusaha menyenangkan hati mereka. Membuat mereka marah harus dijauhi. Kemarahan roh itu menjadi malapetaka.
Animisme adalah kepercayaan bahwa benda yang hidup maupun yang mati mempunyai roh. Roh ini dapat mempengaruhi manusia dari segi baik dan buruk dalam hidupnya. Oleh  sebab itulah orang yang animisme memberikan berupa sesajen kepada roh-roh atas perintah dukun atau ahli sihir karena dukun dan ahli sihirlah yang dapat mengontrol roh-roh tersebut.
3.     Politheisme
Kepercayaan dinamisme dan animisme lama lama tidak memberikan kepuasan, karena terlalu banyak yang menjadi sanjungan dan pujaan. Roh yang lebih dari yang lain kemudian disebut dewa. Dewa mempunyai tugas dan kekuasaan tertentu sesuai dengan bidangnya. Ada dewa yang bertanggung jawab terhadap cahaya, ada yang membidangi masalah air, dan ada yang membidangi angin dan lain sebagainya.  Politeisme mengandung kepercayaan terhadap dewa-dewa. Dalam agama ini hal-hal yang menimbulkan perasaan takjub dan dahsyat bukan lagi dikuasai oleh roh-roh tetapi oleh dewa-dewa. Dewa-dewa politeisme telah mempunyai tugas-tugas tertentu.
Politeisme adalah kepercayaan terhadap dewa-dewa yang diyakini berkuasa atas kehidupan didunia ini, yang menentukan baik dan buruk, bahagia dan derita. Sehingga tujuan hidup penganut politeisme adalah bukan hanya memberi sesajen dan persembahan persembahan kepada dewa-dewa, tetapi juga menyembah dan berdoa untuk menjauhkan amarahnya. Pada agama mesir kuno ada dewa Ra, agama india kuno dewa Surya , agama persia kuno Mithra. Dalam agama hindu ada tiga dewa yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Syiwa. Dalam agama veda ada Dewa Indra, Dewa Vithra dan dewa Varuna. Sedangkan dalam agama mesir kuno adalah Dewa Osiris dan isterinya Isis, bahkan agama Arab Jahiliyah ada Al-Lata, Al-Uzza dan Manata. Agama Yunani kuno juga punya Dewa yaitu Dewa Zeus, agama Romawi yaitu Dewa Yupiter dan Ammon dalam agama mesir kuno.
4.     Henotheisme.
Kepercayaan bahwa satu bangsa hanya mengakui satu dewa yang disebut dengan tuhan, namun manusia masih mengakui Tuhan (ilaah) bangsa lain. Henotheisme mengandung faham Tuhan Nasional. Faham yang serupa ini terdapat dalam perkembangan faham keagamaan masyarakat Yahudi . Yahweh mengalahkan dan menghancurkan semua dewa suku yahudi lain sehingga Yahweh menjadi Tuhan Nasional bangsa Yahudi.
5.     Monotheisme
Kepercayaan hanya mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa. Bentuk monotheisme ditinjau dari filsafat ketuhanan terbagi menjadi tiga paham yaitu deisme, pantheisme dan theisme. Tujuan agama monoteisme bukan lagi mencari keselamatan hidup matrial saja, tetapi keselamatan hidup kedua yaitu hidup spritual. Dalam istilah agama keselamatan didunia dan akhirat.
Ketuhanan dalam faham monotheisme adalah Tuhan Maha Suci dan menghendaki manusia tetap suci (tidak berbuat dosa). Karena manusia yang dapat kembali kesisi Tuhanya hanyalah manusia yang tidak berdosa atau suci dan ditempatkan Allah kedalam surganya. Sedangkan orang yang berbuat dosa tidak akan diterima kembali disisi Tuhanya tetapi akan di tempatkan dalam nerakanya.
Pemahaman terhadap monotheisme  bermacam-macam pula yaitu :
1.      Deisme
Kata Deisme berasal dari kata latin Deus yang berarti Tuhan. Menurut paham ini tuhan berada jauh diluar alam (trancendent) yaitu tidak berada dalam alam (Immanent). Tuhan menciptakan alam dan sesudah alam diciptakannya, ia tidak memperhatikannya lagi. Alam kemudian berjalan dengan peraturan-peraturan atau hukum-hukum (sunnatullah) yang tidak berubah-ubah.
2.      Pantaisme.
Pantaisme berasal dari kata Pan berarti seluruh, teism berarti Tuhan, maka pantaism mengandung arti seluruhnya Tuhan. Semua yang ada dalam keseluruhanya adalah Tuhan. Benda-benda yang dapat ditangkap panca indra adalah bagian dari Tuhan.
3.      Teisme
Paham teisme hampir sama dengan deisme dan pantaisme, dalam hal kebutuhan terhadap Tuhan, teisme berbeda dengan deisme, paham teisme berpendapat bahwa walaupun alam diciptakan Tuhan dengan sempurna, namun alam tetap berhajat pada Tuhan. Tuhan adalah sebab bagi segala yang ada dialam ini. Tuhan adalah dasar dari segala yang ada dan yang terjadi dalam alam ini.
4.      Naturalisme
Naturalisme merupakan dampak lanjutan dari paham deisme, yang menyatakan bahwa alam ini setelah diciptakan Tuhan, tidak berhajat lagi pada Tuhan, karena Tuhan telah menjadikannya berjalan menurut peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang tetap dan tidak berubah. Menurut naturalisme, alam ini berdiri sendiri, serba sempurna, berjalan dan beroperasi menurut sifat-sifat yang terdapat dalam dirinya sendiri, menurut tabiatnya, yakni menurut hukum sebab akibat. Alam ini tidak berasal dari dan bergantung pada kekuatan gaib atau supranatural.
Jadi konsep ketuhanan menurut filsafat dalam sejarah pemikiran manusia, dalam perjalanannya terjadi perkembangan dalam pemahaman mengenai konsep Tuhan mulai dari dinamisme, animisme, politheisme sampai monotheisme. Pada akhirnya menusia sampai pada sebuah pengakuan bahwa alam ini diciptakan oleh Tuhan yang satu, yang patut disembah dan Tuhan bagi seluruh alam. Akan tetapi dari perkembangan alam fikiran manusia, konsep tentang Tuhan memang telah diselewengkan oleh para ilmuan yang tidak mengetahui Tuhan (naturalist dan ateist).
Dari uraian diatas dapat di simpulkan bahwa dalam agama primitif dikenal berbagai macam istilah untuk melambangkan Tuhan. Dinamisme percaya kepada kekuatan ghaib yang misterius yang berpengaruh pada kehidupan manusia. Animisme mengajarkan bahwa tiap-tiap benda yang bernyawa maupun tidak memiliki kekuatan atau memiliki roh. Dalam paham politeisme, manusia percaya terhadap dewa-dewa dengan tugas-tugas tertentu. Kemudian dalam aliran henoteisme mengakui satu Tuhan untuk satu bangsa, sehingga masing-masing bangsa mempunyai Tuhan sendiri-sendiri. Henoteisme mengandung paham Tuhan nasional. Paham ini dapat dilihat pada agama Yahudi yang akhirnya mengakui Yahweh sebagai Tuhan nasional mereka.

B.             KETUHANAN DALAM ISLAM
Setelah masa primitif berlalu, agama yang dianut adalah monoteisme, dengan ajaran Tuhan tunggal, Tuhan Yang Maha Esa. Perbedaan mendasar monoteisme dengan henoteisme adalah bahwa dalam agama henoteisme Tuhan bersifat nasional, sedangkan dalam agama monoteisme Tuhan bersifat internasional. Tujuan hidup dalam agama monoteisme adalah mencari keselamatan material dan spiritual. Perbedaan paling prinsip adalah dalam agama primitif manusia berusaha membujuk kekuatan supernatural untuk mengikuti kemauan manusia, sedangkan dalam monoteisme manusia mengikuti kemauan Tuhan. Disinilah Islam mengambil posisi sebagai agama monoteisme.
Tentang Tuhan, dalam agama Islam dikenal konsep tauhid. Tauhid berasal dari bahasa arab yaitu wahada yang berarti menunggalkan, mengesakan, yaitu sebuah konsep yang harus diyakini bahwa Tuhan umat Islam (Allah swt) adalah Esa sebagaimana firman Allah swt :
وَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ
Artinya ; “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. QS. Albaqarah (2) : 163

Konsep Tauhid dalam Islam sudah dimulai sejak zaman Nabi Adam, tetapi kemudian menyimpang yang pada akhirnya diperkuat ketauhidannya oleh Nabi Ibrahim, maka Nabi Ibrahimlah yang selalu disebut sebagai “Bapak Tauhid”.
Konsep tauhid umat  Islam  telah  dicantumkan dalam  Firman  Allah Al Quran  yang secara totalitas membicarakan keesaan Allah swt :
قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣  وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤
 
Artinya : Katakanlah: "Dia-lah Allah swt, yang Maha Esa. Allah swt adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas (112) : 1-4

Secara keseluruhan ayat ini membicarakan mengenai ke-Esa-an Allah swt, Allah swt adalah tempat bergantung dan berlindung, Allah swt tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan. Allah swt adalah pencipta alam semesta dan seisinya. Maka berarti sesungguhnya dari ketergantungan  manusia sebagai makhluk-Nya. Sesuatu  yang bergantung tidak dapat dibayangkan bila terlepas dari tempat ketergantungannya. Dari sinilah kemudian muncul term  “syirik” yang berarti ganda atau menyekutukan, artinya perbuatan yang menganggap bahwa ada dzat yang Maha Agung selain Allah swt, terlebih lagi dalam status perbuatan menuhankannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar